SMA Muhammadiyah Puraseda

Jalan Raya Puraseda KM 11 Desa Puraseda Kec. Leuwiliang Kab. Bogor 16640

"Religius - Cerdas - Kreatif - Mandiri " (I Dream)

Tiga Peran Pemuda Indonesia sebagai Wujud Bela Negara

Rabu, 28 Oktober 2020 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 1131 Kali

Peringatan Hari Sumpah 

Pemuda merupakan tonggak kesadaran untuk bersatu dalam Tanah Air, Bangsa dan Bahasa. Tak hanya itu, Hari Sumpah Pemuda juga menjadi awal perjuangan untuk meraih kemerdekaan Indonesia.

Mengutip berbagai sumber, peringatan Sumpah Pemuda ini diawali pada Kongres Pemuda I pada 30 April-2 Mei 1926. Akan tetapi, saat itu rasa persatuan dan kesatuan belum terasa. Kemudian Kongres Pemuda kembali diselenggarakan pada 1928. Kongres Pemuda II digelar pada 27-28 Oktober 1928. Pada kongres tersebut, kepanitiaan Kongres Pemuda II dipimpin oleh Sugondo Djojopuspito dari PPPI (ketua), Djoko Marsaid dari Jong Java (wakil ketua), Mohammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond (sekretaris) dan Amir Sjarifudin dari Jong Batak. Pada kongres ini pula terasa rasa persatuan dan nasionalisme. Pada kongres itu pula menghasilkan keputusan para pemuda berikrar bertumpah darah satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, Bangsa Indonesia dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Lagu Indonesia Raya pun diperdengarkan untuk pertama kalinya di kongres pemuda tersebut. Lagu ini dibawakan langsung oleh penciptanya WR Soepratman dengan menggunakan biola.

Meski ikrar sumpah pemuda sudah berusia hampir satu abad, tampaknya ikrar tersebut masih tetap berlaku hingga kini. Memegang persatuan dan kesatuan merupakan hal sangat penting bagi Indonesia. Generasi muda Indonesia pun diharapkan dapat terus memegang persatuan dan kesatuan tersebut. Pemuda Indonesia harus gigih, gesit dan mengambil peran dalam kehidupan berbangsa. Ada sejumlah Peran yang dapat dilakukan oleh Pemuda Indonesia. 

PertamaMerawat Keberagaman. Ini mengingat dunia makin tanpa batas. Nasionalisme sempit apalagi sikap primordial berdasarkan suku, agama sangat berlawanan dengan keadaan dan tuntutan zaman global seperti sekarang. Untuk merawat keragaman tersebut juga butuh peran dari lingkungan terdekat seperti keluarga dan sosial. Tantangan merawat keragaman itu tidak hanya dialami Indonesia tetapi juga negara lain.  Untuk melahirkan generasi muda yang mampu menerima dan menghargai perbedaan, bisa diajarkan sejak dini. Orangtua dapat mengajarkan nilai-nilai tersebut sesuai dengan perkembangan anak. 

Kedua, Generasi Muda juga perlu Mengembangkan Keahliaan sesuai dengan revolusi teknologi abad ini. Ini karena ada pekerjaan yang punah karena akan digantikan oleh mesin dan komputer. Komputer akan lebih mampu mengerjakan Pekerjaan dari pada manusia. 

KetigaMerawat Kemanusiaan. Merawat Kemanusiaan dengan berpikir kritis sehingga perlu banyak baca dan berdiskusi. Hal ini agar tidak mudah dibohongi dan dikendalikan data bohong. Kemudian humanis. Hal ini yang membedakan manusia dengan mesin. Oleh karena itu, generasi muda perlu dilengkapi dengan wawasan dari seni seperti seni, sastra, filsafat, psikologi, ilmu alam dan sosial. Lalu mengolah Rasa dan Karsa agar bisa menjadi manusia yang bisa berkontribusi ke masyarakat secara Humanis, Kreatif, Sosial hingga Spiritual. (I.T.)

Kosa Kata :
Primordial adalah sebuah pandangan atau paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya.

Oleh : Imam Tarmidji

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Oleh Holidin, S.Pd.

Assalamu'alaikum.Wr.Wb. Bissmillaahirrohmaanirrohiim. Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat, hidayah, dan karunia-Nya serta segala kebaikan yang telah diberikan…

Selengkapnya

TAUTAN